Publik Jabodetabek

Loading

Menelisik Akar Ondel-Ondel: Simbol Penolak Bala Masyarakat Betawi

Sebagai ikon yang sangat melekat dengan Jakarta, sangat penting bagi kita untuk kembali Menelisik Akar Ondel-Ondel guna memahami makna yang terkandung di balik sosok raksasa yang ramah ini. Masyarakat Betawi memiliki sejarah panjang dengan figur boneka besar ini, yang pada awalnya diciptakan bukan sebagai sarana hiburan jalanan. Jauh sebelum era modern, keberadaannya memegang peranan vital dalam kehidupan spiritual dan sosial masyarakat di pemukiman-pemukiman tua Jakarta, di mana ia dianggap sebagai entitas pelindung yang menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Dalam proses Menelisik Akar Ondel-Ondel, kita akan menemukan bahwa fungsi aslinya berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural. Dahulu, boneka ini diperankan sebagai sarana penolak bala untuk mengusir wabah penyakit atau bencana alam yang melanda suatu perkampungan. Wajahnya sengaja dibuat garang dengan mata melotot agar roh-roh jahat merasa takut dan menjauh dari lingkungan tersebut. Ritual pengarakan ini dilakukan dengan penuh khidmat, diiringi dengan sajian doa-doa khusus agar seluruh warga diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya yang tidak diinginkan.

Secara visual, upaya Menelisik Akar Ondel-Ondel juga memperlihatkan simbolisme warna dan aksesoris yang digunakan. Figur pria biasanya memiliki wajah merah yang melambangkan keberanian, ketegasan, dan tanggung jawab sebagai pemimpin. Sementara itu, figur wanita memiliki wajah putih yang menyimbolkan kesucian, kelembutan, dan budi pekerti yang luhur. Hiasan kembang kelapa di bagian kepala bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bahwa manusia harus bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya, sebagaimana seluruh bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai kebutuhan hidup.

Meskipun saat ini fungsi aslinya telah bergeser menjadi sarana pariwisata dan penyambutan tamu, nilai-nilai dasar dalam Menelisik Akar Ondel-Ondel harus tetap diperkenalkan kepada generasi muda. Modernisasi memang membawa perubahan pada cara penyajian kesenian ini, namun filosofi tentang perlindungan dan keseimbangan hidup tidak boleh luntur. Penting bagi para budayawan untuk terus menyuarakan bahwa di balik gerakannya yang jenaka, terdapat sejarah perjuangan masyarakat Betawi dalam mempertahankan tradisi dan kearifan lokal di tengah arus perubahan zaman yang sangat kencang di kota megapolitan.