Publik Jabodetabek

Loading

Pasca-Muktamar Ricuh: Apa Arti Kemenangan Aklamasi Mardiono bagi Masa Depan PPP?

Pergantian kepemimpinan di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah mencapai titik kulminasi yang penuh drama. Setelah Muktamar di Surabaya pada tanggal 27 September 2025 diwarnai kericuhan dan insiden adu argumen, puncaknya adalah penetapan Aklamasi Mardiono sebagai Ketua Umum periode 2025-2030. Proses yang dipercepat di tengah kondisi yang diklaim darurat internal ini menimbulkan pertanyaan besar: apa arti kemenangan aklamasi ini bagi masa depan PPP, terutama setelah partai tersebut gagal melenggang ke Senayan pada Pemilu terakhir? Kericuhan yang terekam dalam berbagai video amatir menunjukkan bahwa meskipun hasil penetapan telah diumumkan, bayang-bayang konflik internal yang mendalam masih menyelimuti Partai Ka’bah.

Keputusan Aklamasi Mardiono ini tentu menyimpan dilema. Di satu sisi, langkah ini diklaim sebagai upaya penyelamatan dan konsolidasi cepat untuk menghindari perpecahan yang lebih parah, menyusul trauma konflik internal terburuk yang pernah dialami PPP pada periode 2014-2019. Dengan penetapan yang dipercepat, diharapkan energi internal dapat dialihkan segera pada persiapan menghadapi Pilkada Serentak 2025 yang semakin dekat. Mardiono sendiri telah menyampaikan permintaan maaf di hadapan peserta Muktamar atas kegagalan PPP meraih ambang batas parlemen, sebuah pengakuan yang diharapkan dapat meredakan ketegangan dan mempercepat rekonsiliasi.

Namun, di sisi lain, proses Aklamasi Mardiono memicu kecaman dari faksi-faksi yang merasa tidak terakomodasi. Salah satu kubu, yang dipimpin oleh mantan Sekjen, secara terbuka menolak klaim aklamasi tersebut, menyebutnya sebagai klaim sepihak. Ketidakpuasan ini berpotensi merembet ke jalur hukum, di mana pihak yang berkeberatan berencana mengajukan gugatan ke Mahkamah Partai dan bahkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Jika sengketa ini berlarut-larut, fokus partai untuk melakukan reformasi dan membangun kembali mesin politik akan terganggu. Ancaman konflik ini merupakan tantangan pertama dan terbesar yang harus segera diatasi oleh kepemimpinan yang baru.

Langkah strategis pertama yang harus dilakukan oleh Mardiono adalah memulihkan citra partai yang terpuruk pasca-Pemilu. Diperlukan strategi pemenangan yang benar-benar baru, termasuk merangkul kembali kader-kader daerah yang sempat merasa ditinggalkan dan menyusun grand design untuk menargetkan Pemilu 2029. PPP harus membuktikan bahwa Aklamasi Mardiono adalah jalan keluar dari krisis, bukan sekadar penundaan konflik. Hal ini mencakup transparansi dalam pengelolaan aset partai dan program kerja yang secara nyata berpihak pada kepentingan umat dan masyarakat akar rumput. Sebuah survei internal PPP pada awal September 2025 mencatat, sentimen negatif publik terhadap internal partai mencapai 65%, angka yang harus segera dibalik dengan kinerja nyata.

Para pengamat politik mengingatkan bahwa PPP berada di ambang batas eksistensi. Gagal lolos ke Senayan adalah alarm keras yang tidak bisa diabaikan. Keberhasilan kepemimpinan Aklamasi Mardiono tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia bisa meredam perpecahan, tetapi juga dari seberapa efektif ia dapat membawa PPP bangkit di kontestasi politik daerah dan nasional mendatang. Ini adalah pertarungan untuk menyelamatkan warisan historis partai, dan waktu yang tersisa sangatlah singkat.